JOKOROWOTLOGOREJO
| -
Daftar | Masuk | Anggota
Berita Utama
iklan banner
.
Tampilkan postingan dengan label Wong Cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wong Cilik. Tampilkan semua postingan

Tamu Dan Tuan Rumah

Kim Wong Cilik | Ibarat di kehidupan nyata, blog kita adalah rumah kita dan pengunjung blog adalah tamu rumah kita. Kadang tamu itu ada yang diundang, ada juga yang tidak diundang. Yang tentunya ini mempunyai norma-norma kehidupan nyata maupun kehidupan maya (bukan kehidupan neng Maya hehehe... ). Salah satunya dalam hal kesopanan atau sopan santun. Baik itu kesopanan dalam hal menerima tamu ataupun kesopanan dalam bertamu.


Bertamu

Tentunya kedua belah pihak mempunyai kepribadian yang berbeda, baik tuan rumah ataupun tamu. Ada yang tahu sopan dan ada juga yang tidak tahu sopan... Namun ketika kedua belah pihak mempunyai kepentingan yang sama, maka hendaknya persepsi beretika ini haruslah sama. Artinya kedua belah pihak harus memiliki etika, yang punya rumah harus tahu kesopanan menerima tamu dan yang bertamu juga begitu harus tahu juga kesopanan dalam bertamu.

Ketika kita di aplikasikan di kehidupan maya dalam hal ini blogging. Hal yang sama hendaknya diberlakukan juga. Sebagai tuan rumah, tentunya admin akan menyajikan hal-hal yang bisa dibaginya. Ada yang membaginya secara gratis, namun ada juga yang harus berbayar. Kalo suka yang silahkan baca atau beli kalo ga suka ya...jangan baca atau jangan beli. Begitu juga pengunjung atau tamu blog, bila ada hal-hal yang disukai silahkan baca, kalo mau diambil silahkan minta izin agar tidak diteriaki maliiinngg!!! hehehehe.... Setidaknya Anda meninggalkan jejak dengan cara berkomentar yang tentunya harus santun juga.

Jika ada hal yang tidak disukai atau salah menurut kita, hendaknya jangan dibaca atau mungkin kita memberi koreksi atas kesalahan yang ada. Atau mungkin sebaiknya Anda tutup saja halamannya dan segera pergi. Jangan malah memaki-maki yang punya rumah, ya otomatis Anda akan diusir... dalam hal ini komentar Anda akan dijadikan komentar spam. Bagaimana tidak diusir, udah dikasih gratis...ehh..malah maki-maki di rumah orang hehehe....

Semoga dari ilustrasi di atas, kita dapat mengambil hikmahnya agar kegiatan blogging ini memberikan mafaat bagi kehidupan kita baik materi maupun non-materi. Saya berharap kita semua menjadi blogger yang baik dan beretika. Saya pribadi tidak merasa telah menjadi blogger yang baik, saya masih belajar untuk menjadi baik. Tidak ada salahnya kita belajar untuk menjadi baik kan...?

Bila dalam postingan ini ada yang salah, mohon dikoreksi. Bila ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan, dan bila ada yang kurang mohon ditambahkan hehehe... Dengan senang hati saya akan menerima semua masukan Anda.

Postingan ini terinspirasi dari kehidupan di dunia blogger. Semoga dapat dimengerti dan bermanfaat...

Pekerjaan Terhebat dan Mulia Kaum Perempuan

Kim Wong Cilik | Ketika aku bertemu dengan teman lama, seorang perempuan yang sudah menikah, memiliki anak dan menjadi ibu rumah tangga, seringkali ketika ditanya tentang kesibukannya
sehari-hari dia menjawab, aku cuma ibu rumah tangga biasa, dengan agak malu-malu.
Kata-kata dan biasa seolah mengisyaratkan keminderannya karena tidak
bekerja di luar rumah dan menghasilkan  uang.
Aduh kawanku kau punya pekerjaan paling hebat, terhormat, dan paling mulia di
dunia ini, mengapa lantas merasa rendah diri dan malu?

Apalagi ketika teman tersebut
memiliki pendidikan S1 atau S2 dan menjadi ibu rumah tangga, tidak sedikit mereka
yang berpendapat sia-sia saja dia sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya menjadi ibu rumah tangga

Seorang ibu sangat berperan besar
dalam pembentukan watak seorang anak. Bahkan menurut M. Quraish Shihab dalam
bukunya yang berjudul "Perempuan, mau
atau tidak mau, suka atau tidak, pandai atau bodoh, perempuan adalah pembentuk
watak. Dia adalah sekolah yang, bila disiapkan dengan baik, akan melahirkan
manusia unggul, bahkan generasi yang tangguh dan luhur. Kalau tidak
dipersiapkan atau tidak siap, perempuan akan menghasilkan manusia-manusia yang
tidak berguna, bahkan berbahaya bagi masyarakatnya.

Sebegitu besar dan pentingnya
peran seorang ibu bagi pembentukan karakter anak, disamping peran seorang ayah
dan lingkungan tentu saja. Seorang ibu, bagaimanapun juga adalah tempat
pertamakali seorang anak belajar. Seorang ibu yang bekerja di luar rumah pun
harus memiliki prioritas. Bayangkan jika seorang ibu lebih menitikberatkan
pekerjaannya diluar rumah daripada urusan rumah tangganya, entah apa yang akan
terjadi pada anak dan rumah tangganya kelak.

Lagipula mengurus anak dan rumah
bisa jadi lebih berat dan melelahkan jika dibandingkan dengan bekerja di luar
rumah. Makanya pekerjaan menjadi ibu rumah tangga tidak bisa disepelekan. Apalagi
tidak sepeserpun dia menerima gaji atas pekerjaannya itu. Pekerjaan yang
dilakukannya hanyalah berlandaskan rasa cinta dan takwa. Lihat.. betapa
mulianya seorang ibu rumah tangga. Jadi jika kau seorang ibu rumah tangga,
katakanlah dengan penuh percaya diri dan kepala terangkat. Karena yang kau
lakukan itu adalah pekerjaan yang sangat hebat dan mulia. Tidak sepantasnya
merasa malu atau minder, kawan.

Renungan Hati Wong Cilik

Kim Wong Cilik | Renunganku : Aku bukanlah pejabat publik yang mempunyai pengaruh di tengah-tengah masyarakat,tapi aku hanyalah seorang manusia lumrah yang berada di tengah-tengah masyarakat sekitar ku, kadang aku menjadi masalah karena kenakalan ku sebagai reaksi anak muda yang sering bertindak tanpa berpikir lebih jauh dulu...kadang juga aku menjadi solusi buat masyarakat karena kelebihan ku walaupun aku hanya bisa membuat mereka tertawa karena kekocakan ku...

 Aku juga bukanlah orang kaya yang selalu memegang uang dan memiliki berbagai fasilitas yang bisa mengangkat reputasi ku di tengah tengah masyarakat karena harta ku. jadi ketika aku tampil di tengah masyarakat bukan karena harta ku atau embel-embel yang ku sandang tetapi karena pribadi ku sendiri...

Aku juga bukanlah orang penting yang selalu di cari orang orang yang punya kepentingan.. justru malah akulah yang selalu mencari orang orang penting di masyarakat ku dengan harapan aku bisa pelajari kenapa mereka menjadi orang penting di masyarakat ku,itu pun aku banyak kecelik karena banyak ku temui mereka dia ngggap penting karena hartanya...derajat keluarganya atau bahkan karena mereka punya sesuatu (klenik)yang menjadikan mereka menjadi penting.... dan yang ku cari bukan yang seperti itu...

Semua orang yang mengenal ku tahu persis kalau aku bukanlah ustadz lebih lebih kyai yang selalu membawa dalil dan perkataan yang penuh muatan ayat suci.. ketika aku mengumandangkan adzan di masjid,ketika aku ikut kajian islam,ketika aku membawa selebaran yang membahas islam bukan berarti aku adalah seorang yang mumpuni dalam agama...tapi aku hanya ingin memposisikan diri ku berada dalam orang-orang yang nyaman dan serius dengan keislaman ku sendiri...

Aku ternyata juga bukan seorang tokoh yang sering di datangi dan di libatkan di masyarakat.. aku hanya bagian dari mereka yang berada dalam wadah yang berusaha peduli pada problematika masyarakat...tatkala melihat aku selalu berada di forum-forum tokoh masyarakat bukan berarti aku seorang tokoh tetapi aku ingin belajar kepada mereka...

Ketika aku di bilang orang sibuk.. Ternyata itu juga salah karena aku sendiri sedang mencari kesibukan...aku sendiri bingung dan penasaran bahkan terobsesi supaya menjadi orang yang sangat sibuk dan itu belum aku dapatkan....Aku juga bukan... manusia yang baik karena ukuran baik itu sendiri memiliki makna bias...

Tetapi aku hanyalah seseorang yang berusaha untuk menjadi baik dan belajar menjadi baik dengan standar sebagai hamba allah swt. insya allah....Aku juga selalu Tunduk,Tapi aku tunduk Bukan berarti aku takut, tapi aku sadar atas apa yang aku miliki adalah kuasa Tuhan,dan hingga tiba saatnya nanti Tuhan akan mengambilnya dariku,Aku juga menyadari dengan apa yang terjadi padaku,merupakaan karma dari sebab dan akibat perbuatanku sendiri selama di dunia ini......

Tukar Kaweruh Sesama Wong Cilik

Arti harfiahnya adalah orang kecil. Maksudnya ialah mereka yang kehidupan sosio ekonomis politisnya ditentukan pihak lain. Bisa juga ditafsirkan bahwa wong cilik adalah mereka yang tidak punya akses terhadap kekuasaan. Dalam dunia wayang, wong cilik adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, para punakawan yang setia mendampingi para satria utama dalam usaha menegakkan keadilan dan kebenaran. Kita tahu, Semar adalah dewa mangejawantah (manifestasi dewa) yang hidup di bumi. Karena itu, jika para satria bersikap sembarangan terhadap Semar, mereka bisa kualat.

Dengan kata lain, bila para satria pangembating praja (aparat pemerintah, termasuk para birokrat) mengabaikan suara wong cilik, mereka pun akan mudah tersungkur. People’s power tak bisa diremehkan. Konsep kualat dalam masyarakat Jawa bisa jadi merupakan mekanisme kontrol agar mereka yang di atas tidak begitu saja melupakan kawulo yang di bawah.

Kenyataannya, di masyarakat kita wong cilik masih diperlakukan seperti cah cilik (anak kecil) padahal mereka dudu cah cilik (bukan anak kecil). Sebagai anak kecil tahunya diam, kalau masakan siap akan di panggil, kalau malam cuci kaki terus bobo, selesai. Artinya, wong cilik sebagai cah cilik kodrat politisnya harus diam.

Memang sih ada perkembangan yang lumayan sehubungan dengan perlakuan terhadap wong cilik akhir-akhir ini. Paling tidak kelihatan mereka makin berani menuntut hak dan mengadu kepada anggota dewan atau pejabat daerah, meski kita juga tahu bahwa hasilnya masih pada taraf “kami tampung”. Dengan demikian, wong cilik adalah mereka yang bila mengadukan nasib kepada satria pangembating praja diterima baik-baik dan dijawab : aspirasi kami tampung!

Selebihnya, wong cilik adalah mereka yang jika nyolong ayam jelas ditindak tegas demi tegaknya rule of law. Bukan cuma itu, wong cilik adalah juga para penyangga tegaknya piramida kekuasaan. Sebagai penyangga, posisinya di bawah, membungkuk, dan tak jarang pula penyok.

Kadang golongan menengah berpikir dengan sikap memihak terhadap wong cilik, nasib mereka mungkin akan terangkat. Tidak heran bila kemudian si wong cilik lalu jadi “komoditas internasional” dengan merek dagang “kemiskinan” atau “peningkatan kesehatan” yang akhirnya membuat para pedagang perantara hidup makmur tak kurang suatu apa.

Begitulah, wong cilik selalu tertinggal dari zaman ke zaman. Tapi mereka tetap tabah menunggu giliran. Mungkin ini lantaran mereka kelewat percaya kepada cakra manggilingan, yang menjanjikan bahwa hidup itu bak roda berputar dan bahwa wolak-waliking jaman (perubahan tatanan zaman) akan memungkinkan mereka naik dan yang di atas bisa ke bawah. Mungkin ada benarnya. Ataukah justru konsep cakra manggilingan itu sebenarnya merupakan ideologi kaum mapan untuk meninabobokan wong cilik agar mereka sabar terus di roda bagian bawah. Ideologi penindasan.

Metafora tentang wong cilik lalu menjadi khas, berkonotasi merendahkan dan mengejek. Saya masih ingat, di Jawa wong cilik itu diejek sebagai si cebol. Jika mereka menunjukkan punya ambisi, langsung saja ditekan dengan ucapan : o, si cebol nggayuh lintang (si cebol mau memetik bintang – sama dengan pepatah Indonesia si pungguk merindukan bulan). Suatu kemustahilan. Namun, bila si cebol tadi benar-benar mampu nggayuh lintang (bisa naik tangga sosial), segera mereka akan dicemooh : kere munggah bale yang arti harfiahnya si gembel masuk balai / rumah.

Kedua peribahasa ini bisa saja merupakan sejenis self mockery (wong cilik mentertawakan dirinya sendiri), tapi bisa juga ditafsirkan bahwa keduanya merupakan cermin dari sikap tidak rela kelas elit jika wong cilik ikut-ikut menikmati kursi kekuasaan dan duduk sederajat dengan mereka.

Welehhh Welehhhh Wong Cilik Kok Yo Di Akal Akalin Terus Sama Wong Gedeee.... Pancen Hasemmm...

Wong Cilik Nyangkruk

Ada yang ngaku partainya wong cilik, tapi slogannya “bikin harga sembako murah” Lah, coba kita pake logika terbalik. Alat produksi kita yg terbesar kan ya petani to….????, ladang produksi terbesar ya sawah to..???

Karena memang kita ini negara agraris. Nah kalo harga sembako mau diturunkan, otomatis ( SOTOMANIS ) juga akan menurunkan harga jual dari produsennya to…???dan berarti juga mau bikin petani tambah kere to…??? Dan Soto Manisnya Siapa yang Makan Hayooooo.....???

Petani Indonesia selalu dihadapkan pada posisi yang serba memilih, memilih menjual hasil produksinya dengan harga “seadanya”/manut tengkulak, atau memilih mati kere atau mati malu (karena nggak punya duit untuk bayar utang pupuk, utang sewa sawah, utang traktor, dll) dengan tidak menjual hasil produksinya.

Kalo ngaku partainya wong cilik ya harusnya bisa bikin petani Indonesia punya “bargaining position” yang kuat untuk mengendalikan harga hasil produksinya dong. Kalau bisa begitu, nanti pasti tak contreng. Agar supaya hakekatnya daripada para petani bisa juga makmur, sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, para pemuda desa betah untuk meneruskan “pekerjaan” orang tua mereka untuk jadi petani.

Coba lihat sekarang, mana ada anak petani yang mau jadi petani….???karena susah lihat orang tuanya susah. Kalo keadaan ini nggak segera di perhatikan, krisis pangan akan menjadi hal yang bukan tidak mungkin dalam 2 dasawarsa kedepan.

Podo Pora Pikiranmu Ro Pikiranku.......Hehehehehe Crewetttttttttttttt.....

Suara Rakyat ( Wong Cilik )


Suara Rakyat ( Wong Cilik )
Suara Rakyat katanya Suaranya yang harus didengar , Suara yang katanya pula Nyaring dan Membahana, benarkah seperti itu …??? atau hanya sekedar Suara angin yang sepoi-sepoi wush..wush …menyibakkan helaian rambut serta memaksa kelopak mata menutup berlahan , itu kali yang dimaksud Suara Rakyat atau mungkin saja itu Suara Rakyat palsu yang kerap menipu telinga Wong Cilik yang berkeliaran di gang – gang sempit nan kumuh.

Suara Rakyat harusnya Corong bagi Negara yang Maju dan Makmur , Suara Rakyat adalah Gema yang mendayu namun menusuk pikiran dan Hati untuk selalu menjalankan nurani hati yang bersih,bahkan terkadang Suara Rakyat itu ada ketika kita tidak membutuhkannya,

Bukanya tidak Ada ketika kita membutuhkannya… Apa harusnya memang seperti itu!

Renungan Wong Cilik

Renungan Wong Cilik
Ketika matahari semakin tinggi diatas kepalaku ternyata kehidupan untuk hari ini tidaklah semakin menggembirakan,ada sesak disana…

Mungkinkah karena rasa syukur itu telah pergi jauh hingga nuraniku pun semakin mengkerdil dan menyesatkan …

Ada sesat di sana …sesat yang mengkangkangi pikiran dan ketulusanku hingga menusuk ketulang belulang,tak ada lagi rasa pilu yang kurasakan hanya ada kehampaan yang tak jelas…

Apakah ini hanya wong cilik yang merasakan?? bukan karena strata saja namun kekerdilan jiwa adalah merupakan bagian dari wong cilik itu sendiri…

NB : UNTUK WONG BESAR TOLONG LIHAT WONG CILIK

Nurani Wong Cilik

Nurani Wong Cilik
Sejauh mana Engkau memandangku kini …
Apakah Engkau Tetap merasa bahwa Aku masih kecil di matamu…
Atau Engkau tidak merasakan sama sekali kehadiranku…
Hmmm… apa gunanya Aku ada,walau Aku hidup ditanah leluhurku sendiri
Atau ??? mungkin Engkau tetap merasa negara ini adalah rumahmu sendirian atau mungkin negara ini Warisan dari Mah loooo...…Atau mungkin.....??? Wes Sak Karepmu Lah........
Bukankah begitu tuan besar???no.no..no...no ..Bukankah begitu boss besar??
eeeh..kok salah terus!Bukankah begitu Juragan Besar…Eeeee ....mbuuuhlaaah … Karepmu.....gelap !

 
iklan banner

Label 11

Label 10