JOKOROWOTLOGOREJO
| -
Daftar | Masuk | Anggota
Berita Utama
iklan banner
.
Tampilkan postingan dengan label Cermin Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin Hidup. Tampilkan semua postingan

Jagalah Aurotmu Dari Maut

Kim Wong Cilik | Suatu kali, seorang akhwat dengan senyum tak enak berkata, “Mo gimana lagi, ane sebelum pake jilbab udah tinggal sama ipar. Jadi nggak enak aja kalo sekarang dengan dia pake tutupan segala.”

Yang mendengar tentu langsung lemas. Masa’ ketika di luar, dari atas sampai bawah tertutup, giliran di rumah dibuka begitu saja.

Kejadian di atas adalah fakta yang penulis temui sekitar satu tahun lalu—mudah-mudahan akhwat tersebut kini berubah pikiran—dan kenangan itu kembali lagi setelah seorang siswi SMA menanyakan status iparnya pada penulis. Sebelumnya, seseorang juga pernah berkata, saudara ipar adalah mahram karena ikatan perkawinan. Hm, siapa bilang?

“Hindarilah berkhalwat (berduaan) dengan kaum wanita!” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan saudara ipar?” Rasulullah menjawab, “Berkhalwat dengan saudara ipar itu adalah maut!” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Rasulullah saw menyebut kata ‘maut’ karena besarnya bahaya yang ditimbulkan dari tindakan berduaan (khalwat). Saudara ipar, dalam kehidupan sehari-hari, memang lebih terkesan seperti keluarga. Statusnya di masyarakat tak beda dengan sepupu yang menurut sebagian orang adalah mahram. Padahal, ipar maupun sepupu (yang berlainan jenis), tanpa sebab tertentu tidak termasuk deretan mahram yang Allah sebutkan dalam al-Quran.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa [4]: 23).

Juga tidak termasuk golongan orang-orang yang dibolehkan melihat aurat seorang perempuan.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur [24]: 31).

Para ulama mengklasifikasikan mahram berdasarkan sebabnya menjadi 3 golongan (laki-laki sebagai subjek):

1: Mahram karena nasab
Ibu kandung, nenek, buyut, dst.
Anak perempuan, cucu, dst.
Saudara kandung.
‘Ammat/bibi (saudara wanita ayah).
Khaalaat/bibi (saudara wanita ibu).
Banatul akh/anak perempuan dari saudara laki-laki.
Banatul ukht/anak perempuan dari saudara perempuan.

2: Mahram karena mushaharah (besanan)
Ibu dari istri (mertua).
Anak perempuan dari istri (anak tiri).
Istri dari anak laki-laki (menantu).
Istri dari ayah (ibu tiri).

3: Mahram karena penyusuan
Ibu yang menyusui.
Ibu dari wanita yang menyusui.
Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya.
Anak perempuan dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).
Saudara perempuan dari suami perempuan yang menyusui.
Saudara perempuan dari ibu yang menyusui.

Selain dari hal-hal yang disebutkan di atas, ada pula mahram yang semata-mata diharamkan menikahinya saja, tapi tidak membuat seorang laki-laki dibolehkan melihat aurat, bepergian berdua, atau berkhalwat dengannya. Mereka adalah: istri orang lain, saudara ipar, perempuan dalam masa iddah (baik dicerai suaminya maupun yang ditinggal wafat), istri yang telah ditalak tiga, istri yang telah dili’an (dicerai dengan cara dilaknat), perempuan dalam keadaan ihram, perempuan budak (padahal mampu menikahi yang merdeka), perempuan pezina, perempuan musyrik, dan perempuan non-Muslim yang bukan kitabiyah.
Sebagai Muslimah dengan al-Quran dan sunnah sebagai pedoman, maka wajib bagi kita menaati aturan di dalam kedua peninggalan Rasul tersebut. Jangan menjadikan pandangan manusia sebagai tolok ukur untuk menjaga aurat. Mereka yang belum paham, sebaiknya diberitahu, bukan dimaklumi dengan melonggarkan syariat yang sudah ditentukan Allah. Karena tidak ada kepatuhan pada siapa pun dalam bermaksiat!.

Diam Lebih Baik Daripada...?

Kim Wong Cilik | Kalau ditanya, bisa nggak kita mengukur iman kita? Bisa nggak mengukur iman kita ini,sudah tinggi tingkatannya atau belum? Kalaupun kita bilang bisa, itu mulut kita yang bicara. Hati kita
bagaimana? Dan yang jelas, sebenarnya perlu atau tidak kita ngurusi imannya orang lain? Bukankah itu urusan orang tersebut dengan penciptanya? Memang bisa jadi ahli ibadah kadar imannya bagus, namun belum tentu juga orang yang tidak bisa mengaji kadar imannya lebih rendah.Kalaupun ingin menilai kadar iman orang lain, punya urusan apa kita?

Ada yang berkata bahwa orang beriman yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Dalam hubungannya dengan sesama, menurutku yang paling penting sebenarnya adalah akhlak. Yang orang lain
butuhkan adalah akhlak kita. Urusan akidah biarlah menjadi urusan sang pemilik hidup saja.
Rasulullah
SAW bersabda:"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
ia berkata baik atau diam "(HR. Bukhari Muslim).
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya" (HR. Ahmad)"

Mungkin pernah kita temukan seseorang yang sangat rajin ibadahnya tidak hanya ibadah wajib, melainkan ibadah sunah shalat malam juga hampir tak pernah terlewatkan. Tapi orang ini senang sekali menggunjing, senang sekali mengadu domba teman-temannya. Nah, di sini lantas yang salah apanya? Apakah ibadahnya ada yang salah atau bagaimana?
Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar?

Mungkin saja memang ibadahnya yang tidak melibatkan hati, atau mungkin juga dia hanya shalat ketika sedang shalat. Jadi dia tidak membawa shalatnya turut serta dalam urusan dunianya ketika dia selesai shalat. Kita sama sekali tidak bisa menilai.Untuk urusan ibadah lagi-lagi yang bisa menilai hanya Tuhan. Orang lain tidak butuh shalat kita, tapi baik tidaknya perkataan kita, baik tidaknya akhlak kita.

Ucapan yang tidak terjaga selain bisa menyakiti orang lain juga menjadi sumber dosa. Tidak hanya kata-kata kotor atau kasar, menggunjing kejelekan orang, ataupun berkata bohong saja, namun juga perkataan yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya sehingga bisa menjadi fitnah yang menyakiti hati orang lain. Jadi jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam saja.

Untuk belajar menahan diri, mungkin
hadist berikut bisa mengingatkan kita.
Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya, maka Allah akan tutupi keburukannya" (HR. Abu
Nuaim).
Bukankah kita sendiri juga punya keburukan? Jadi sebelum berkata buruk tentang orang lain, kita ingat saja hadist ini. Kita tidak ingin keburukan kita dibuka Allah dihadapan orang lain bukan?

Cari Uang Haram Susah Apalagi Yang Halal...?

Kim Wong Cilik | Judul diatas adalah pandangan bagi orang-orang yang belum melek. Orang yang terus-menerus merasa cemas bagaimana mendapatkan uang sehingga dilakukan dengan menempuh cara apapun. Ini berarti dia hanya menggunakan cara pandang dunia, cara pandang mata manusia, dan itu merupakan manusia yang sudah melupakan akhirat, melupakancara pandang Tuhan.

Cari Haram Susah Apalagi Uang Yang Halal
Beberapa hari yang lalu aku mengalami kejadian lucu. Sebuah penipuan kecil. Penipuan kok lucu? Ya, karena jumlahnya yang tidak seberapa, hanya uang sejumlah dua belas ribu rupiah. Uang
segitu mungkin hanya cukup untuk makan satu kali di warung sederhana. Beda
cerita lagi kalau yang hilang sampai ratusan ribu atau juta;an, itu baru nggak ada lucu-nya sama sekali, hehe

Bermula sekitar jam sebelas pagi
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu setengah baya di depan pasar setengah berteriak mengucapkan salam. Setelah kutemui dia bercerita kalau baru saja menyerempet seorang anak dengan motornya.
Kemudian dia bilang mau pinjam uang, soalnya uang yang dia bawa kurang untuk ganti rugi. Katanya akan dikembalikan segera setelah dia pulang ke rumah untuk mengambil uang.

Dasar otak ku yang lagi lemot, aku sama sekali tidak menaruh curiga.
Aku mengiyakan saja dan bergegas mengambil uang. Baru setelah teman kerjaku tanya,apa mau dikasih padahal nggak kenal? Kasih lima ribu saja, sarannya. Aku baru mikir, iya ya; jangan-jangan penipu. Tapi alih-alih merasa marah karena hendak ditipu, aku justru merasa kasihan. Eh, ini aneh juga ya, mau ditipu tapi malah merasa kasihan pada yang akan menipu. Jangan-jangan, otakku perlu direparasi, hehe;
Akhirnya tetap kuberikan padanya uang sejumlah yang dia minta, dua belas ribu rupiah. Sambil tetap berharap semoga kecurigaanku salah. Semoga wanita ini memang jujur, dan benar-benar membutuhkan pertolongan.

Kemudian ternyata sampai sore aku pulang kerja, wanita itu sama sekali tidak kembali. Namun aku sama sekali tidak merasakan penyesalan. Justru membuatku kembali berpikir, apakah wanita itu memang benar-benar kepepet sehingga menggunakan cara seperti itu?
Tidak adakah sama sekali cara lain yang baik untuk mendapatkan uang? Padahal melihat dari penampilannya, dia tidak seperti orang yang kekurangan. Apalagi dia membawa motor. Ah, entahlah; yang jelas aku yakin Tuhan tidak akan pernah salah membagikan rejeki pada hambanya.

Aku percaya, apapun yang diambil orang dari kita, jika memang itu hak kita, maka akan dikembalikan
Karena aku sangat percaya Tuhan Membagi dan Mengambil Rejeki hambanya dgn cara sudah ia tentukan,
Tuhan dengan cara lain juga yang tidak kita duga-duga. Bahkan dengan cara yang tidak kita sadari.
Apalagi rejeki yang sebenarnya tidak hanya dalam bentuk uang saja.

Makanya, aku sama sekali tidak memahami jalan pikiran para koruptor pemakan uang Negara yang selalu menghiasi layar kaca. Untuk apa dipandang terhormat dimata manusia karena berlimpah harta
namun rendah di mata Tuhan yang Maha Kuasa? Bukankah orang hidup itu intinya adalah Inna lillahi wa inna ilaihi raji;un? kepadaNya lah kita nanti akan kembali.
Kita tidak bisa lari dan mengelak. Mencari dunia itu baik asalkan dengan cara yang baik, dan mempergunakannya dengan baik dan bijak pula. Maka tidak perlulah kemrungsung akan
dunia. Yang paling utama Allah selalu meridhoi segala langkah kita. Itu sudah cukup.
( Tulisan Di Atas Hanyalah Ilustrasi Semata )

Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila

KIM Wong Cilik | Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila
Yang dimaksud dengan orang gila di sini adalah istilah yang sering digunakan di masyarakat untuk
menyatakan orang yang tidak sehat akalnya, tidak waras, atau berperilaku sangat
aneh. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa

Sedangkan Cara pandang kebanyakan orang,
menempatkan orang gila sebagai manusia yang mempunyai derajat paling rendah.
Orang gila tidak bisa mempergunakan akalnya sehingga bisa dikatakan, jangankan
untuk mengerti norma dan sopan santun, bahkan telanjang di tempat umum pun
mereka tidak malu dan tetap terlihat cuek ( Karena Dia Orang Gila )

Kalau begitu, jelas derajat kita lebih tinggi dong? Masak dibandingkan kok dengan orang gila...? Namun cara pandang lain bisa meletakkan lebih mending orang gila daripada manusia normal

Cara pandang yang satu ini menemukan bahwa orang gila sangat mungkin lebih baik daripada manusia normal. Misalnya masih lebih baik orang gila, yang tidak mungkin merampok, korupsi, atau menyakiti hati orang. Masih mending orang gila, yang tidak mungkin dengki, iri atau baik kepada orang lain hanya karena ada kepentingan. Sedangkan manusia normal bisa berkemungkinan melakukan segala hal tersebut. Makanya manusia normal bisa lebih baik dari orang gila, bisa juga lebih rendah dari orang gila.

Orang gila tidak berkewajiban sholat, puasa, dan ibadah-ibadah wajib yang lain. Sedanangkan manusia normal beragama islam yang memiliki kewajiban untuk beribadah, masih sangat mungkin melakukannya setengah hati bahkan melalaikannya. Maka bukankah masih mending orang gila yang tidak berdosa karena tidak beribadah daripada manusia normal yang dosanya bertumpuk-tumpuk ketika sering melalaikan ibadah?

Namun disini bukan berarti mending jadi gila saja daripada normal. Bagaimanapun juga manusia normal masih berkesempatan menabung amal sholeh untuk memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Kita hanya cukup mengambil pelajaran, jangan sampai kita berperilaku yang membuat kita memiliki derajat lebih rendah dari orang gila. ( Hanyala Cerminan Hidup )
 
iklan banner

Label 11

Label 10